Utara Kota Jakarta: Wisata Pantai, Wahana, Sejarah, Seni, Belanja, Religi, Kuliner, in Between


Akhir tahun 2009, selepas wisuda sarjana, saya mengungsi ke Ibu Kota Jakarta untuk bekerja di perusahaan bidang agribisnis. Peluang bekerja di Jakarta memang lebih terbuka lebar dibandingkan kota-kota lainnya di Indonesia. Kantor tempat saya kerja berlokasi di Jakarta Utara tepatnya di kompleks industry Ancol. Sebelum tahu wilayah industry ini, yang saya tahu tentang Ancol adalah daerah kekuasaan Si Manis Jembatan Ancol (film favorit saya waktu kecil) dan wisata Taman Impian Ancol (http://www.ancol.com) dimana ada Dufan, Pantai Ancol, Sea World, Atlantis, resort, dll. dalam satu kompleks wisata yang merupakan salah satu dari banyaknya spot wisata utara Jakarta. Dari ANcol pula kita bisa menyebrang menuju Pulau Seribu dengan menyewa speed boat. Pantai Ancol dan koco-koconya itu menjadi tempat favorit keluarga sedari saya kecil mungkin kelas 1 SD. Wahana-wahana di sana benar-benar mengasyikkan penuh memori masa kecil. Dufan ini kebanggaan warga Jakarta dan menjadi favorit masyarakat luar Jakarta, termasuk saya. Apalagi Dufan sering memberikan diskon. Di akhir tahun tiket masuk bisa diskon 50%. Bahkan ibu saya yang profesinya sebagai guru SD kerap kali berwisata ke Ancol bersama murid-muridnya di akhir tahun pendidikan, yakni kenaikan kelas atau merayakan kelulusan SD. Dari Bandung ke Ancol cukup dekat sekitar 2-3 jam melalui Tol Cipularang. Dulu ketika saya kecil, Tol Cipularang belum dibangun jadi bisa menghabiskan waktu perjalanan 5- jam melalui jalur Puncak, Bogor. Cukup melelahkan. Beruntung jarak tempuh Bandung-Jakarta sekarang bisa diperpendek. Untuk sampai ke Dufan, warga ibu kota bisa menggunakan moda Transjakarta (http://www.transjakarta.co.id/peta_rute.php?img=5) destinasi Dufan dan turun langsung di Ancol. Sudah gitu selamat bersenang-senang deh J. Nah, kalau yang luar Jakarta biasanya mereka dating rombongan dengan menyewa kendaraan seperti bis.
Selama bekerja di Jakarta, tempat yang sering saya kunjungi adalah daerah utara Jakarta mulai dari ujung Tanjung Priok hingga Pelabuhan Sunda Kelapa termasuk Ancol dan Kota Tua. Kawasan dari Tanjung Priok dan Pelabuhan Sunda Kelapa itu bisa dibilang dalam satu garis lurus. Kawasan ini dominan dengan kawasan industry, pelabuhan, dan wisatanya. Berhubung kosan saya di Lodan, Jakarta Utara, jadi menu sehari-hari ya kawasan Ancol dan Kota Tua itu. Setiap kali berpergian mengelilingi Jakarta saya selalu melewati kawasan-kawasan ini. Kota Tua juga dekat dengan Pantai Ancol, tak lebih dari 10 menit perjalanan dengan kendaraan. Angkutan umum yang melalui rute Pantai Ancol ke Kota Tua itu Mikrolet M15 (lewat gerbang industry ancol) atau M15A (lewat mangga dua). Angkot ini dimulai dari Terminal Bis Tanjung Priok menuju Kota Tua, Pintu Gerbang Ancol ada di pertengahan rute kedua mikrolet itu. Untuk ke Ancol ini juga ada fasilitas KRL dari beberapa stasiun di Jabodetabek (http://www.krlmania.com/roker/read.php?id=1024) atau dari Stasiun Tanjung Priok yang berhenti di depan pintu gerbang Ancol, saya kurang tahu mengenai rute dan jadawalnya mungkin bisa akses ke website Commuter Jakarta. Stasiun pemberhentian KRL depan Ancol ini persis daerah Jembatan Ancol, saya pernah lihat acara TV yang mengupas tentang Jembatan Ancol ini dan katanya (katanya ini juga) orang harus melempar uang koin ke dalam kali di jembatan itu. Kalau kata supir angkot si lain lagi ceritanya, pengendara yang lewat situ harus membunyikan klakson 2 apa 3 kali gitu yah? Kalau tidak bakal terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Di ruas jalan itu juga ada pembatas jalan yang agak bengkok mungkin bekas kejadian bis/mobil yang masuk ke kali tapi trotoar nya tidak rusak. Jadi mobil itu kayak tijungkir (bahasa Sunda yang artinya jatuh hingga terbalik). Tau deh, yang jelas saya tidak pernah berkendara sendiri di sana. Dan saya merasa aman-aman saja tanpa melakukan ritual itu. Pernah suatu ketika saya pulang dari Tasik malam hari dan sampai di Terminal Tanjung Priuk, Jakarta dengan Bis Budiman pukul 3 pagi. Naik ojeg menuju kosan dan melewati jembatan ini tidak terjadi apa-apa. Lagi-lagi ya percayanya pada Yang Maha Kuasa saja. Cukup.
 Kalau ingin ke Kota Tua yah langsung turun di depannya, bilang saja turun di Kota Tua atau di Beos, bagi yang belum hafal atau pertama kali ke sini. Para supir angkot biasa bilang Stasiun Beos untuk sebutan lain Stasiun Jakarta Kota. Awalnya saya tidak tahu kalau stasiun Beos itu nama lain stasiun Kota. Kalau dilanjutkan, rute angkot ini juga melewati Pelabuhan Sunda Kelapa tempat dimana ada perahu-perahu antik nan berjaya pada masanya “terdampar” di sana. Sepaket dengan Pelabuhan Sunda Kelapa, terdapat pula Museum Bahari dan kalau mau bisa juga mengunjungi Mesjid Luar Batang. Yang konon katanya Mesjid itu keramat.
Untuk yang berwisata ke Pantai Ancol/ Dufan, sangat direkomendasikan bisa mengunjungi Kota Tua juga. Kota Tua ini bisa mengingatkan kita pada sejarah, perjuangan para pahlawan tempo dulu yang bersikeras untuk merdeka. Bagi saya, Kota Tua semacam spirit ketika saya lagi runyam, abg bilang itu galau. Bagaimana tidak, masalah yang saya hadapi itu jauh-jauh dari susahnya berjuang demi negeri ini.
Jika mengingat jasa-jasa pahlawan, malu saya ini terhadap diri sendiri bahkan bangsa Indonesia. Sebagai pemuda, Saya belum bisa memberikan apa-apa bagi negara Indonesia.
Hampir setiap weekend saya melalui daerah ini. Kadang juga di weekdays jika saya tidak langsung pulang ke kosan sepulang kerja, ngelayap sendirian atau jalan bareng teman-teman kantor. Pasti lewat Kota Tua. Selalu tampak keramaian di sana. Dari pagi hingga malam hari terutama malam minggu. Di Weekdays biasanya malam hari saja yang ramai, kalaupun siang ramai itu karena kedatangan wisatawan dari luar kota yang tur budaya atau studi banding. Tak jarang bis-bis besar terparkir di bahu jalan Kota Tua.
Kota Tua, dilihat dari arsitekturnya adalah bukti sejarah kekejaman penjajahan Belanda. Di lihat dari keberadaannya adalah saksi perjalanan para pendatang ke Batavia. Di lihat dari sejarahnya adalah besarnya heroic para pahlawan pada masa itu. Dalam satu kompleks Kota Tua, terdapat beberapa museum, di antaranya Museum Kesenian Wayang, Museum Fatahillah, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum
Untuk menikmati destinasi museum/spot menurut saya bisa dimulai dari Museum Bank Mandiri. Jika berkendaraan menggunakan KRL, selepas turun langsung ke luar pintu utama selatan cari arah yang ke jalan bawah tanah, setibanya menyelusuri jalan bawah akan muncul di sebrang jalan kereta dan persis di depan Museum Bank Mandiri. Kalau naik Transjakarta pun pasti melalui jalur bawah. Kenapa saya menyarankan lewat jalur ini> karena lebih aman, walaupun terhitung agak jauh jika dibandingkan nyebrang langsung. Tapi kendaraan di sana cenderung ngebut jadi agak sulit juga untuk menyebrang. Lagian, di bawah itu ad ataman kecil melingkar jadi tidak akan bosan.
Di Museum Mandiri (http://www.wisatamuseum.com/id/mandiri-profile.php) ada berbagai jenis uang tempo dulu, mesin-mesin cetak uang, dan perbankan tempo dulu lainnya. Yang saya suka dari gedung ini adalah hiasa-hiasan dinding dan siluet kacanya. Bila diperhatikan mirip dengan corak kaca yang ada di Lawang Sewu, Semarang. Memang taka sing lagi karena dibangun di era penjajahan Bangsa Belanda dulu. Jadi ya memiliki satu kekhasan yang sama.
Sebelah Museum Mandiri ada Museum Bank Indonesia (http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Museum/). Saying sekali saya belum sempat ke Museum ini (hallo, kemana aja selama di Jakarta? -_-), lain kali kalau ke Jakarta saya harus menyempatkan masuk Museum ini.
Setelah dua museum itu, kita bisa menuju ke Taman Kota Tua nya, dimana museum-museum lainnya ada di sana. museum-museum itu mengelilingi taman Kota Tua. Bangunan pusatnya adalah Museum Fatahillah dan menurut saya gedung yang paling gagah dan besar. Bendera merah putih berkibar tepat di tengah luar gedung menghadap ke tengah taman. Titik pusat taman terdapat semacam cekungan seperti lubang dangkal dan di tenghanya berdiri bangunan kecil. Area taman ini beralaskan paving block seperti kebanyakan pusat-pusat keramaian di Eropa.
Di dalam Museum Fatahillah (http://www.jakarta-tourism.go.id/content/id/255/museum-sejarah-jakarta) terdapat banyak koleksi bukti-bukti sejarah masa Belanda dan ada pula pengaruh kebudayaan Cina yang banyak melakukan aktivitas perdagangan ke Nusantara dimana Pelabuhan Sunda Kelapa, Batavia, sebagai gerbang perdagangan. Dari lantai teratas, lantai 3, apabila jendela kayu besar bercat hijau dibuka pemdangan akan disuguhkan pada area taman Kota Tua.
Gedung Museum Kesenian WAyang ini menurut saya gedung yang paling berbeda dengan gedung lainnya di Kota Tua. Mungkin gedung ini adalah renovasi dari gedung lama sehingga terlihat lebih modern. (http://www.museumwayang.com/Sejarah%20Museum%20Wayang.html) Di sana banyak koleksi wayang-wayangan baik wayang kulit, golek, orang, dan boneka-boneka khas daerah Indonesia. Ada juga kesenian daerah lainnya seperti topeng, alat music daerah. Untuk boneka modernnya ada seperangkat boneka unyil, boneka tangan karya Pak Raden ( Drs. Suyadi  ) serta koleksi boneka dari luar seperti dari Asia dan Eropa.
Masih ada beberapa gedung yang saya tidak sempat kunjungi hanya nongkrong di depannya saja.  gedung lainnya itu Museum Keramik (http://www.museumindonesia.com/museum/37/1/Museum_Seni_Rupa_dan_Keramik_Jakarta). Terlihat dari luar museum ini berhalaman yang cukup luas. Kerindangan pohon dan adanya fasilitas saung baru-baru ini memberikan warna yang asri.
Di taman banyak para penjual yang menajjakan cidenrmata, tattoo, jasa foto tempo doeloe. Disediakan beberapa kostum dan aksesoris jaman dulu dengan latar kota tua ini, biasanya di depan kafe-kafe tua. Elok memang bisa foto di sana. Yang sering saya lihat itu pasangan yang sedang foro pra-wed. Sayang koleksi foto-foto saya raib karena hardisc rusak jadi tidka bisa menunjukkan gambarnya, beberapa yang bisa diselamatkan. Banyak juga komunitas yang kumpul-kumpul di sana bersilaturahmi, bergaul, atau sekedar menunjukkan eksistensinya. Tak jarang di antara wisatawan itu adalah turis manca negara.  Biasanya selain ke Kota Tua mereka juga menyempatkan ke Pelabuhan SUnda Kelapa (http://www.jakarta-tourism.go.id/content/id/149/pelabuhan-sunda-kelapa) untuk melihat perahu-perahu  antic dan manegabadikannya. Saya sering rombongan turis atau 1-2 turis yang berjalan kaki dari Kota Tua ke Pelabuhan SUnda KElapa bisa memakan waktu 5-10 menit dengan berjalan. Amazed juga melihat mereka berjalan karena udara yang panas dan asap kendaraan di jalanan. Yah namanya juga turis kali ya, ingin menikmati setiap detiknya mengunjungi tempat-temoat wisata apalagi yang kental dengan makna sejarah. Patut dicontoh.
Dari beberapa spot di taman dan halaman museum sering dijumpai meriam-meriam. Namun yang terkenal adalah Meriam Jagur (http://www.wisatamuseum.com/id/sejjkt-collection.php) yang ada di halaman belakang Museum Fatahillah. Ikon yang lain adalah batu-batu bundar besar yang berserakan   di hamper banyak titik di Kota Tua. Dari keseluruhan museum-musuem ini, umumya museum mengenakan tariff tidka lebih dari 2000 untuk satu orang setiap kali masuk, untuk mahasiswa bisa diskon 50%, dan untuk anak-anak bahkan lebih murah lagi. Ada juga museum yang tidak peru tiket alias free of charge.
Akses untuk sampai ke kawasan wisata Kota Tua ini sangat mudah, bagi yang daerahnya di Jabodetabek bisa pakai KRL dengan tujuan Stasiun Kota dan langsung sampai di kawasannya. Hanya perlu menyebarang jalan beberapa langkah. Kalau yang tidak mau menyebrang alternatifnya bisa pula lewat jalur bawah tanah. Jangan dibayangkan jalan bawah tanah yang panjang dan gelap. Tidak, sama sekali tidak, jalan di bawah ini seperti penghubung stasiun kota dan kota tua. Di atas jalan bahwa tanah ini adalaha halte transjakarta, Transjakarta rute Blok M- Jakarta Kota yah berakhirnya di sini. Kebanyakan warga Jakarta memanfaatkan transjakarta untuk sampai ke Kota. untuk transjakarta yang berasal dari tempat lain bisa pakai transjakarta apa saja hingga transit ke Harmoni. Dari Harmoni baru dilanjut ke Kota Tua. Murah meriah ya hanya 3500 bisa akses kemana saja.
Wisata Kota Tua ini pun ditunjang dengan wisata belanjanya, beberapa meter ke Timur ada pusat pembelanjaan grosir Mangga Dua. Mulai dari fashion, makanan, dan elektronik ada dalam 1 wilayah itu. Ada yang bilang pusat belanja ini terbesar di Asia tenggara. Kalau saya perhatikan, rata-rata orang membeli banyak di sini untuk dijual kembali di kota tempat tinggalnya. Seperti Pasar Baru Bandung, mengambil stok danganganya  salah  satunya dari Mangga Dua ini. Pertama kali saya ke Pasar Mangga Dua ini ketika magang di LIPI Serpong. Bela-belain main ke Jakarta bareng, ketemuan ma temen-temen kuliah di sana. Jadi teman teman yang dari Bandung lagi pengen belanja ke mangga dua. Lalu kami yang tengah magang di Jakarta dan sekitarnya pun ikut ke mangga dua. Dari serpong kami naik bis trans serpong langsung ke mangga dua di Taman Jajan, Serpong. Aksesnya memang mudah untuk sampai ke sana.
Setelah hamper dua tahun mengenyam bangku dunia kerja saya memutuskan untuk kembali ke kota halaman di Bandung. Hijrah saya kembali ke Bandung ini semata-mata didorong oleh hati nurani dalam menyukseskan program pemerintah yakni mengurangi beban daya tampung Kota Jakarta yang kian hari kian padat serta dijunjung oleh keinginan luhur menekan kemacetan maka pada bulan Juli 2011 saya mengajukan resign pada kantor saya.
Di hari terakhir saya di kantor, bos saya mengadakan farewell bersama teman-teman sejawat satu divisi. Pulangnya saya pun mengajak beberapa teman yang satu lantai di kantor. Tidak banyak hanya yang bisa saja dan memang kantorku itu tidak begitu banyak karyawannya karena bagian research saja. kalau bagian lain yang masih satu rumpun perusahaan memang tersebar banyak di Jakarta dan relative lebih banyak karyawannya dalam 1 gdeung. Kalau fi kantor penempatan saya mungkin bisa dihitung dengan jari. Maka kami bersepuluh menghabiskan waktu-waktu terakhir saya di Jakarta dengan ngabuburit ke Kota Tua (waktu itu bulan Ramadhan). Lagi-lagi Kota Tua, memang kawasan ini sangat stategis dan yang paling dekat dengan kantor saya. Di akhir jalan-jalan, kami buka bareng di salah satu resto cepat saji di dalam Stasiun Jakarta Kota. Nikmatnya kebersamaan dengan teman-teman [EnjoyJakarta].

Comments

Popular posts from this blog

Interview Skype

#Early2013Wish: Wisata Ke Selangor

2 Jam Bersama Miljan Radovic & Bobotoh