Mother is My Essential Healer
Mengutip perkataan Ustadz Felix Siauw bahwa Hari Ibu seharusnya bukan ajang ‘pamer’ perhatian pada ibu pada satu hari saja, namun lebih kepada pengingat bagi ibu dan bagi anak-anak ibu untuk menghormati dan memuliakan posisi sebagai seorang ibu. Yang jelas seharusnya Hari ibu bukan alasan untuk baik pada ibu pada satu hari aja, katena mereka layak mendapatkan itu dari kita setiap harinya.
Ya, saya sangat setuju dengan ucapan beliau. Di hari Ibu, 22 Des lalu kita kembali diingatkan akan hebatnya sosok beliau. Dan saya ingin memberikan apresiase setinggi-tingginya pada sosok seorang ibu. Ketika kemarin sakit dan hanya ibu-lah obatnya. Ini semacam pengingat bagi saya pribadi betapa dan betapa hebatnya beliau.
Ya, saya sangat setuju dengan ucapan beliau. Di hari Ibu, 22 Des lalu kita kembali diingatkan akan hebatnya sosok beliau. Dan saya ingin memberikan apresiase setinggi-tingginya pada sosok seorang ibu. Ketika kemarin sakit dan hanya ibu-lah obatnya. Ini semacam pengingat bagi saya pribadi betapa dan betapa hebatnya beliau.
Singkat cerita: Beberapa tahun terakhir ini, ketika saya memasuki period,
kram perut kentara kerasa sakit di hari pertama. Apa mungkin karena hormon atau
pola makan/olahraga yang tidak baik. Sakit yang kerasa sifatnya fluktuatif
hanya terasa sakit di menit-menit tertentu, tidak berlangsung lama dan saya masih bisa menahannya. Namun
pada malam 13 Des itu rasa sakit hampir tak bisa dibendung. Entah karena
terlalu stress memikirkan tugas akhir kuliah yang tak kunjung berprogress atau
karena faktor lain. Yang saya rasakan sakit ditambah karena maag atau imunitas sedang turun. Akumulasi itu membuat saya tidak bisa menahan sakit, hingga beberapa
kali puke.
Rasa sakit akan hilang keesokan harinya tapi
malam itu perut terasa perih hingga saya sulit untuk menahannya. Maka saya
putuskan untuk ke dokter saja. Jam menunjukkan pukul 11 malam, rumah sakit
menjadi pilihan. Ketika di perjalanan, saya duduk di belakang bersama ibu,
sedangkan bapak saya di depan bersama supir taksi. Karena tak kuat duduk saya
berbaring di atas pangkuan ibu dengan tubuh miring. Dalam perjalanan yang hanya
15 menit karena jalanan kosong. Ibu mengusap-usap kening saya. Terasa nyaman rasanya.
Ada suatu aliran energi positif terasa saat itu. Rasa sakit saya perlahan
menurun. Sambil diusap-usap, saya mendengar kabur-kabur suara segukan ibu. Saya
pikir karena ibu terlalu mengkhawatirkan saya. Ketika mendekati rumah sakit, ajaib rasa perih itu menjadi hilang. Tinggal lemasnya saja. Sempat berpikir untuk
mengurungkan niat ke dokter dan ingin kembali ke rumah saja. Tak perlu lagi ke
dokter karena saya merasa lebih baik. Tapi karena sudah sampai di depan rumah
sakit jika saya bilang ingin pulang, pasti orang tua tidak setuju. Di dalam UGD pun saya sudah merasa lebih
baik. Diperiksa sebentar dan pulang lagi. Jadi
menurutku obat utama adalah kehangatan seorang ibu. Tak lain. Itu cukup.
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik)
kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah
yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu
dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (Al
Qur'an, 31:14)
"... Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian
demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah,
Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?" (Al Qur'an,
39:6)

Comments
Post a Comment